Selasa, 08 April 2014

Suatu hari bersama Tirani Dwitasari

You Raise Me Up dari versi Josh Groban, West Life sampai Harrison Craig & Tim Moxey silih berganti melantun lembut ditelinga membawaku berkelana menulis cerita  tentang peristiwa aneh yang kualami di pagi hari tanggal 7 April 2014.

Saat itu aku tengah berjalan berdua kakakku menghabiskan waktu dengan mengitari seluruh pelosok kota kembang. Tanpa disadari kamipun sampai disebuah rumah yang sedang mempersiapkan sebuah pesta dan alangkah terkejutnya ketika mengetahui bahwa penghuni rumah itu ternyata adalah Tirani Dwitasari, seorang gadis cantik jelita yang selama lebih dari 3 tahun belakangan telah terpatri rapi dialam bawah sadarku.

Dengan ramah dia mempersilahkan kami berdua untuk masuk kedalam rumah. Aku terpana melihat keindahan yang terpancar dari raut wajah dan senyumnya sampai-sampai tidak tahu harus berbuat apa. Dalam hati aku berkata “Tuhan, seandainya waktu bisa diputar balikkan maka aku ingin engkau jadikan dia sebagai belahan jiwaku… Kan kujaga dia sebaik-baiknya dengan segenap kemampuan yang ada hingga maut memisahkan kami…”.

Sedang asik-asiknya berkhayal tiba-tiba suara Tirani mengejutkanku ”Ada apa, dari tadi kok senyam-senyum sendiri?” Sambil tersipu kujawab sekenanya saja “Lagi berfikir mana yang lebih indah antara sinar bulan purnama dengan senyummu”. Tiranipun tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Hehehe.. Seandainya saja dia tahu apa yang tengah kupikirkan mungkin kejadiannya akan berbeda.

Senja mulai berlalu, salah seorang teman Tirani yang juga saat itu hadir ingin pulang dan saya diminta tolong untuk mengantarkannya sampai depan gang perumahan. Sekembalinya dijalan aku dicegat oleh seseorang yang memberikan 2 gelas kopi “Kang.. ini kopi titipannya Tirani, semua sudah dibayar”. Duhhh… benar-benar gak nyangka Tirani begitu memperhatikan diriku. Sepanjang perjalan hati ini terus berbunga namun tiba-tiba terhentak kaget begitu menyadari isi kopi digelas sudah susut hingga setengahnya. Sambil melanjutkan perjalan mataku tak berkedip memperhatikan gelas yang kupegang dengan erat. Jantungku semakin berdegup kencang ketika menyaksikan isi kedua gelas terus menyusut tanpa tahu penyebabnya. Tepat didepan pagar rumah isi gelaspun habis dan akupun bergegas masuk kedalam rumah dengan penuh rasa khawatir.

Seluruh kejadian yang baru saja kualami langsung kuceritakan kepada Tirani namun sialnya dia sama sekali tidak mempercayainya “Gak percaya… paling tadi jatuh dijalan. Gimana kalau kita beli lagi dan kita buktikan ceritamu tadi?” tantangnya sembari melontarkan senyum manisnya. Alamakkkk… jantungku kembali berdegup kencang tapi kali ini bukan karena takut melainkan oleh senyumnya yang penuh pesona. Nyaliku yang tadinya sempat ciut tiba-tiba bangkit kembali “You raise me up, so I can stand on mountains; You raise me up, to walk on stormy seas; I am strong, when I am on your shoulders; You raise me up... To more than I can be…”.

Singkat cerita kami berdua pada akhirnya keluar rumah menuju warung kopi. Sepanjang jalan kami terus bercanda dan keakrabanpun semakin terjalin. Perbedaan usia yang jauh sama sekali tidak membuat kami canggung, tidak ada lagi jarak yang memisahkan antara aku dan dia, mungkin karena selama ini aku lebih banyak bergaul dengan anak muda dibandingkan dengan orang yang sebaya.

Ditengah perjalan tiba-tiba kami dikejutkan oleh kemunculan sekelompok kelelawar raksasa yang tanpa memberikan peringatan langsung menyerang kami berdua. Dengan gagah berani mengandalkan jurus ilmu bela diri yang dulu pernah dipelajari aku berusaha keras melindungi Tirani. Entah sudah berapa kali wajahnya yang mulus nyaris terkena cakaran maupun gigitan dari para kelelawar yang terus menyerang dengan ganasnya, untung saja aku selalu berhasil menggagalkan serangan tersebut.

Pertarungan yang tidak seimbang terus berlangsung dengan sengitnya namun perlahan tapi pasti tenagakupun mulai terkuras. Ditengah kepanikan sayup kudengar raungan sirine polisi dikejauhan. Raungan itu semakin lama semakin terdengar jelas ditelinga, harapanpun kembali muncul namun tiba-tiba gubrakkkk… Aku benar-benar kaget… aku sudah berada disituasi dan kondisi yang benar-benar berbeda, seolah olah aku baru saja melalui lorong waktu. Anehnya raungan sirine itu justru terdengar semakin keras saja ditelinga ini. Mataku semakin terbelalak ketika mengetahui aku sedang berada dikamar dan akhirnya akupun tersadar bahwa raungan sirine itu ternyata raungan alarm dari handphone bukan dari mobil polisi. Bangun… woiii… bangun… hari sudah siang....

Sial… kenapa aku harus dibangunkan begitu cepat dari lelap tidurku. Sejuta rasa sesal menggelayut dihati ini, tapi disi lain aku berterima kasih kepada Allah SWT yang masih mengasihi diriku dengan menghadirkan sosok Tirani walau hanya melalui sebuah mimpi.

Tanpa terasa sudah 3 tahun lebih aku mengikuti perjalan Tirani dan sepanjang waktu itu tidak sekalipun dia pernah hadir di dalam mimpi hingga 2 bulan terakhir ini semuanya berubah 180 derajat. Aneh tapi nyata, ketika aku sedang mengalami kesulitan justru mimpi tentang Tirani sering menghiasi tidurku.

Terimakasih Tuhan telah kau berikan kepadaku seorang malaikat kecil yang selalu hadir untuk melindungi dan menyemangatiku dan terimakasih pula kepada seseorang(entah siapa yang jelas fakernya Tirani) yang telah mengenalkan Tirani kepadaku melalui Facebook.  Salam metal kepada @tiranids – My Little Angel yang telah tiada lelahnya memberiku semangat dalam meniti kehidupan yang kurang bersahabat walau dengan caranya sendiri. 

Note:
Mimpi dan kejadian yang ditulis benar-benar saya alami dan sengaja diabadikan diblog ini agar suatu saat nanti ketika daya ingat sudah mulai menurun saya tidak perlu berusaha keras untuk mengingat perjalan dan peristiwa hidup yang sangat istimewa ini.

4 komentar: