Jumat, 15 Januari 2010

Charles Ponzi sang inspirator dan Bernard Lawrence Madoff yang akhirnya menyeret Sri Mulyani ke jurang kehancuran

Jangan lagi memuja Amerika, karena Amerika bukan Tuhan dan pada kenyataannya sering melakukan kesalahan

Mengikuti sidang pemeriksaan kasus Bank Century oleh Pansus memang sangat menarik dan tiada habis-habisnya dibicarakan orang dalam setiap kesempatan. Namun demikian ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya yaitu Amerika sebagai episentrum yang menyeret Sri Mulyani dan Boediono ke jurang kehancuran karier dan nama baik yang telah dibangun mereka berdua dengan susah payah.

Amerika memang pusat segalanya; film, musik, teknologi, ilmu pengetahuan, ekonomi atau apa saja dapat dipastikan tidak luput dari peran Amerika. Masyarakat Indonesia begitu memuja Amerika mungkin termasuk juga Sri Mulyani dan Boediono sehingga mereka tidak bisa lagi memfilter atau membedakan mengenai hal yang baik dan buruk atau mana yang bisa dan tidak bisa diterapkan dalam tatanan ekonomi, budaya dan kehidupan berkebangsaan di Indonesia.

Krisis global yang baru-baru ini melanda dunia merupakan salah satu produk ekonomi Amerika yang buruk dan sekaligus menunjukkan  betapa lemahnya sistem pengawasan yang diterapkan oleh pemerintah Amerika. Ini fakta bukan mengada-ngada, coba simak dengan baik cuplikan kisah  dari Charles Ponzi dan Bernard Madoff berikut ini.

CHARLES PONZI SANG PENCETUS

Carlo Ponzi adalah penipu terbesar dalam sejarah Amerika. Dilahirkan dengan nama Carlo Pietro Giovanni Guglielmo Tebaldo Ponzi di Lugo, Italia, Carlo Ponzi (3 Maret 1882 s.d. 18 Januari 1949) atau juga dikenal dengan Charles Ponzi adalah imigran Amerika Serikat (AS) asal Italia. Jauh sebelum Carlo Ponzi menemukan skema penipuan itu, Carlo Ponzi telah dikenal sebagai pelaku kriminal dengan melakukan penggelapan uang yang dikirimkan oleh sesama imigran asal Italia ke negara asal mereka.

Korban pertama yang merupakan awal skema penipuan ini adalah temannya. Pada waktu itu, Carlo meminjam uang sebesar $20 dengan janji akan mengembalikan dengan keuntungan sebsar 50%. Carlo kemudian meminjam uang lagi dari teman lainnya dan mengembalikan uang tersebut ke teman yang pertama.

Dari pengalaman itu, Carlo Ponzi akhirnya membentuk perusahaan yang dinamakan Securities Exchange Company dan menawarkan hasil sebesar 50% dari setiap investasi yang ditanamkan. Untuk meyakinkan para investor, Carlo Ponzi menyatakan bahwa dia menginvestasikan dana dengan membeli Kupon Pos Internasional dan mengkonversikan nilainya dengan dolar Amerika.

Investasi kemudian datang dengan deras karena tergiur oleh keuntungan yang berlimpah. Hanya dalam beberapa bulan, Carlo Ponzi menjadi orang yang kaya raya di AS. Hal ini menyebabkan otoritas pos di AS meminta pemerintah untuk melakukan investigasi tentang cara kerja sistem yang dilakukan oleh Carlo Ponzi.

Menyebarnya informasi tentang audit yang dilakukan membuat para investor merasa tidak aman dan melakukan penarikan dana. Namun, Carlo masih memiliki dana yang cukup untuk mengembalikan investasi mereka beserta 50% keuntungan yang dijanjikan. Namun melihat dari skema yang dijalankan, tentunya hal itu tidak mungkin bertahan lama.

Pemerintah akhirnya memerintahkah penahanan Carlo Ponzi atas ketidakbersediaannya mengungkapkan asal keuntungan besar yang didapatkan. Untuk menghindari penahanan, Carlo Ponzi menyewa William McMaster untuk mengatasi publik sampai investigasi selesai. Dalam waktu singkat, William McMaster menemukan bahwa Securities Exchange Company sama sekali tidak pernah melakukan atau berhubungan dengan transaksi finansial luar negeri dan mengungkapkan penemuan ini ke publik.

Akhirnya, Investor kembali menarik investasi mereka sampai Carlo Ponzi tidak lagi memiliki dana tersisa. Satu demi satu harta terjual untuk membayar investor. Saat itu terdapat lebih kurang 40.000 investor dengan dana mencapai $15 juta.

Pada 21 Oktober 1920, Carlo Ponzi dipenjara 5 tahun karena terbukti melakukan penggelapan uang dan kemudian dipenjara lagi sampai akhirnya dideportasi kembali ke Italia.

Skema Ponzi (Sistem Ponzi) adalah istliah yang digunakan untuk mendefinisikan sebuah sistem dimana seseorang menginvestasikan dana demi mendapat keuntungan dan keuntungan yang diperoleh adalah berasal dari investasi yang dilakukan oleh investor berikutnya. Disebut sebagai Skema Ponzi (Ponzi Scheme) karena sistem ini pertama kali digunakan oleh Carlo Ponzi. Skema ini masih banyak digunakan pada banyak bisnis sampai dengan sekarang.
 
PERKEMBANGAN SKEMA PONZI
Penipuan dengan menggunakan Skema Ponzi saat ini masih banyak dilakukan dalam berbagai penawaran bisnis dengan berbagai modifikasi. Aplikasi skema ponzi ini sangat banyak ditemukan dalam bisnis internet dan biasanya dibungkus dengan promosi yang berupa Confidence Trick. Confidence trick disebut juga Scam yang berasal dari istilah Irlandia ‘S cam ‘e yang berarti “itu adalah trik”. Dilakukan dengan memanipulasi dan mengeksploitasi kelemahan seseorang seperti keserakahan, ketidakjujuran dan kesombongan meski juga sering dilakukan atas kekurangpahaman, kenaifan dan ketertarikan seseorang. Salah satu hal yang sering dimanfaatkan untuk melakukan Scam adalah keinginan orang untuk menjadi kaya dengan cepat.

Skema Piramida
Skema Piramida (Pyramid Scheme) adalah model bisnis yang dilakukan dengan menawarkan hasil yang biasanya didapatkan dengan mengajak orang lain menjadi peserta dalam skema tersebut dengan atau tidak adanya barang atau jasa yang diperjualbelikan. Bisnis MLM adalah contoh aplikasi Skema Piramida. Skema Piramida menurut beberapa ahli dipastikan tidak dapat bertahan selamanya, karena suatu saat akan tercapai titik jenuh tidak ada orang lain yang bisa diajak bergabung.

Skema Matriks
Hampir sama dengan Skema Piramida. Skema Matriks (Matrix Scheme) menawarkan orang untuk mendapatkan keuntungan lebih dengan cara menempatkan mereka pada daftar tunggu (matriks).
Contoh matriks:
Peserta dijanjikan untuk mendapatkan produk senilai Rp 10.000,00 hanya dengan membeli produk lain senilai Rp2.500,00 setelah terdapat lima orang pembeli produk lain tersebut. Setelah mencapai pembeli ke-5 produk lain, produk yang dijanjikan akan dikirim ke pembeli produk pertama. Pembeli ke-2 akan mendapat produk yang dijanjikan setelah terdapat lima orang pembeli lainnya dan seterusnya.

BERNARD LAWRENCE MADOFF SANG PENERUS

“Saya dan keluarga menanamkan investasi di Bernard. Apakah ini berarti investasi kami akan hilang semuanya? Apakah ada cara untuk mendapatkan uang itu sebagian atau seluruhnya kembali? Saya tahu banyak orang atau perusahaan yang dirugikan. Tapi saya khawatir nasabah dari perusahaan besar yang akan lebih diperhatikan.”

Kalimat diatas merupakan  sepenggal surat elektronik yang dialamatkan orang berinisial LC ke para reporter Bloomberg News. Masih banyak pertanyaan bernada putus asa yang dilontarkan nasabah-nasabah individu lainnya ke Bloomberg, korban dugaan penipuan Bernard L. Madoff Investment Securities LL. Selain nasabah individu, Bernard Investment disebut-sebut telah menjaring dana dari institusi atau firma keuangan ternama, seperti HSBC dan Royal Bank of Scotland.

Biro Investigasi Federal (FBI) telah menangkap Bernard Lawrence Madoff, pria kelahiran New York City 70 tahun lalu, pada 11 Desember lalu. Ia ditangkap karena diduga melakukan penipuan terhadap para nasabahnya, total (sementara) mencapai US$ 50 miliar atau sekitar Rp 550 triliun. Terbesar sepanjang sejarah.

Madoff, yang menasihati Badan Pengawas Pasar Modal (SEC) bagaimana meregulasi pasar dan penyumbang dana tetap banyak politisi, mengakui telah menjalankan bisnisnya yang berpusat di New York dengan skema Ponzi. Firma ini memberi jasa konsultasi dan mengelola dana para nasabah kaya raya dan institusi keuangan. Madoff membayar kembali dana yang ditanamkan dengan mengambil dana dari nasabah lainnya daripada mencari keuntungan riil.

Sebelum ditangkap, Chairman Bernard Investment itu dikenal sebagai dermawan. Ia banyak mendirikan yayasan amal, salah satunya adalah Lappin Foundation, yang ada kemungkinan akan ditutup setelah semua asetnya sekarang dibekukan.

Mengapa kasus Madoff baru ketahuan sekarang setelah selama hampir 10 tahun melakukan praktek bisnis ilegal? Menurut Kepala Riset Valbury Nico Omer Jonckheere, Madoff memang piawai. “Sehingga tipa-tipunya tak mudah dilacak,” Atau, dia menambahkan, Madoff, yang perusahaannya menjadi salah satu dari lima firma paling aktif di Nasdaq, punya nama besar. Ia mantan Chairman Nasdaq. Perusahaannya juga memiliki klien yang punya nama besar sehingga dianggap tidak mungkin melakukan penipuan. Atau kemungkinan paling parah lainnya, kata Nico, adalah dugaan SEC “main mata” dengan Madoff. Artinya, praktek yang dilakukan perusahaan yang sudah terdaftar di bursa itu diduga dibiarkan saja.

Jane Bryant Quinn, 69 tahun, wartawan keuangan dan Direktur Bloomberg LP, yang menulis di Bloomberg juga mempertanyakan ke mana saja SEC selama ini? Padahal, menurut Quinn, praktek yang dilakukan Madoff dan perusahaannya sudah terdengar sejak 1999. Orang yang membocorkan itu (whistle blowers) malah langsung menuduh Madoff melakukan bisnis dengan skema Ponzi (ilegal). Tapi investigasi yang dilakukan SEC pada 2007, tulis Quinn, ditutup tanpa ada satu pun tuduhan yang dilontarkan.

3 komentar:

  1. Setuju jangan terlalu America Minded pada kenyataannya banyak sekali tatanan dan teori yang tidak sesuai untuk diterapkan

    BalasHapus
  2. tulisannya sangat bagus mas. btw,sumber tulisanya mana?

    BalasHapus
  3. Berbagai macam sumber mas... Salah satu yang saya ingat adalah wikipedia, yg lain saya lupa... mohon bantuannya...

    BalasHapus